Selasa, 21 Februari 2012

Abang Tukang Angkot

Kalau cerita tentang abang sopir angkot di kota Medan, rupa-rupa warnanya, merah kuning kelabu, merah muda dan biru. Selain banyak di antara mereka yang tempramen tingkat kecamatan, mereka juga terkenal tak sabaran alias kebut-kebutan dengan alasan kejar setoran. Awak yang di belakang sebagai penumpang cuma bisa pegangan pasrah baca doa, semoga bisa lengkap begitu sampe rumah. 

Sudah hampir lima tahun aku di medan (nampak kali semester berapa kuliahnya), selama itu juga lah aku menjalani hidup sebagai angkoter. Banyak cerita yang menarik yang aku alami seputar ankot selama aku di Medan, terutama dengan yang namanya Sopir Angkot. 

Kadang aku heran melihat mereka, bunyiin klakson kenceng-kenceng di lampu merah, padahal sampe nenek dia perawan lagi, mobil di depan dia ga bakalan maju-maju juga kalau lampunya ga ijo. Belum lagi kalau matahari lagi terik-teriknya, tak jarang mereka sering mengumpat kata-kata kotor dengan expresi yang menakutkan.  Awak di belakang cuma geleng-geleg tanda tanya. Tingkah polah mereka memang menjengkelkan namun kadang malah lucu untuk di ceritakan.

Berikut salah satu cerita aku tentang mereka "aku dan bang sopir":

Cerita ini sebenarnya kejadian beberapa bulan lalu, aku kurang ingat kapan tepatnya, tapi yang pasti kejadiannya malam hari, kira-kira setelah azan magrib. Aku di antar kawanku ke simpang untuk ngambil angkot, soalnya waktu itu kami baru ngumpul-ngumpul sama kawan aku di kosnya. Begitu ada angkot, aku langsung naik, duduk paling depan (biar ga perlu geser-geser ama penumpang lain pikirku). Di belakang cuma ada satu penumpang di belakang. Tu angkotpun melaju dengan kecepatan yang meyakinkan, kecepatan yang masih aman menurut ku. Pas di perjalanan si penumpang yang di belakanpun turun. "Tinggal aku berdua sam supir" pikirku. Pikiran aku positive aja lah kan, ga mungkin di perkosa juga awak di dalam angkotkan? secara gt awak jago cakar-cakaran, maklumlah, awak kuliah jurusan sastra cuy, klo bela diri mah LEWAT.

Angkotnyapun melaju lagi dengan kecepatan yang meyakinkan. Kuliatin bapak supir tu sesaat. Dan bapak tu pun memulai percakapan;

Sopir   : Marga apa lae? (mungkin dia udah liat muka aku batak kali)
Aku     : Hasibuan bang. ( jawabku dengan nada yang pelan meragukan)
Sopir   : Oh... Nenek aku pun Hasibuannya (dia mulai semangat ku liat ngobrol)
Aku     : *cuma mengangguk demi sopan santun*

Dan mulai dari itu, pak supir ne mulai cerita macam-macam. Kira-kira begini ceritanya:

Sopir    : Aku baru cerai sam istriku tahun lalu, selingkuh dia sama cowok lain. Wajarlah itu ku ceraikan kan?
Aku      : *mulai bingung*  Wajarlah bang... (jawaban mendukung yang mencurigakan)
Sopir   : Anak aku dua cowok, satu masih SMP, satu lagi SMA (sambil-sambil di liatnya aku apa aku tertarik apa ga ama ceritanya)
Aku      : Tinggal sama siapa sekarang bang? (aku iseng-iseng aja sih nanyak)
Supir     : Tinggal samaku, di rumah kami, Soalnya rumah kami atas nama ku.

Saat itu awak udah pusing mau jawab apa, secara gt, dari kakek buyutku masih ikut perang melawan Kompeni, blom ada riwayatnya dalam keluarga kami yang jadi konsultan pernikanhan kayak gini. Aku cuma bisa senyum ajalah, pura-pura tertarik, padahal saat itu aku pengen turun aja dan ganti angkot. Tapi bapak itu semakin jadi aja curhatnya.

Sopir   : Tapi sekarang aku sedang pacaran, dia janda anaknya satu 
Aku    : *cerita bapak ini udah kayak sinetron pikirku* Oh... anaknya cew atau cow? (masih bertanya demi kesopanan)
Sopir  : Cewek kelas satu SMA (Muka bapak tu udah kayak pak prabu yang mendengar Amira di culik tau ga)
Aku   : Ada rencana kawin pak? (pertanyaan yang bakalan bikin bapak tu makin semangan ini paok, pikir ku)
Sopir  : Ada lah, mungkin ntah enam bulan lagi. Lagi nyari-nyari modal lah ini ( bapak tu mulai cerita uang, pikirku, padahal awak jg lg bokek permanen)
Aku   : *mengangguk meyakinkan*  Bagus lah pak. klo udah cocok, ngapain di lama-lamain lagi,. (aku mulai mendalami peranku sebagai konsultan dadakan.)

Mulai dari cerita tentang pernakahan itu, aku mulai malas menyambut curhatan bapak tu. Jadi aku cuma manggut-mangut meyakinkan. Padahal dalam hati awak udah pengen turun aja. Tapi untung bapak tu ga cerita masalah ranjang. Klo sampe cerita dia. Bah... langsung berubah la aku jadi doker Boyke.

Dan cerita diapun berakhir ketika aku minta turun, tepat di simpang dekat kosa ku.

8 komentar:

Oala Magz mengatakan...

bisa kubayangkan kau senyum2 gugup kayak natalie portman.

Nona Enno mengatakan...

hiahahaha ada-ada aja tu supir..

btw kalo mau blognya rame tu lo harus sering2 blogwalking n ninggalin komen atau nulis di buku tamunya dengan sendirinya nanti blog lo jga bakal bnyk yg ngunjungin koq.. semangat ya.. thx udah mampir di blog gue. salam kenal :D

Teguh Budi mengatakan...

itulah yang menjadi alasan saya malas duduk di depan

Anoe mengatakan...

wkwkw...
thanks ya saran nya...
i'll do it well

Anoe mengatakan...

ntah kepa aku malah enakan di depan... ga perlu geser2 lagi

Anoe mengatakan...

wkwkw...
ga kenal aku.

putri kecantikan mengatakan...

PRODUK www.putrikecantikan.com BEST SELLER:

Obat Pembesar Penis Herbal

Obat Kuat Pria

Obat Perangsang Wanita

Obat Penghilang Tato

Obat Peninggi Badan Herbal

Obat Penggemuk Badan Herbal

Obat Pelangsing Badan Herbal

Kecantikan

Pemutih Wajah Dan Tubuh

Alat Bantu Sex Wanita

Alat Bantu Sex Pria

Aneka Kondom Pria

Putri Kecantikan mengatakan...

Cara Memperbesar Alat Vital Alami

Obat Pembesar Penis Herbal Alami VigRX Plus

 

Obat Pembesar Penis Herbal

 

Pembesar Penis Arabian Oil

 

Pembesar Penis Black Mamba Oil Super

Celana Vakoou USA Solusi Membesarkan Penis

 Capsule Pembesar Penis Herbal King Cobra Capsule

 

Minyak Pebesar Alat Vital Alami Cobra Super Oil

Lintah Oil Super Pembesar Penis

Cara Memperbesar Penis Dengan Vakum Penis Tarik Sport

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates